Tema : lagu Never Say Die – YUI
Takkan Pernah Padam
Semangatku
Alunan nyanyian harmonica yang indah mengalun di keramaian
antara orang-orang berpakaian seragam putih abu-abu yang terlihat keluar
meninggalkan sekolah. Keramaian di sana menjadi ciri khas sekolah yang ada di Tangerang
itu.
Raka, seorang laki-laki yang tak terlalu tinggi dengan
wajahnya yang lucu untuk seorang laki-laki. Raka memainkan musik melalui
harmonikanya, alunan melodi yang ia mainkan menenangkan jiwa. Dengan memutar
lagu You dari Yui, menambah kesan lagu tersebut. Lalu dari arah belakang ada
yang menutupi mata Raka.
“ini siapa ya?? Coba aku tebak…. Ini Riena ya? “ kata Raka
dengan suaranya yang tak terlalu berat
“ iya, kok kamu tahu sih ?” kata seorang Gadis blasteran
jepang yang imut, dan suaranya yang halus
“ tahu dong, siapa yang tidak tahu kalau kan Cuma kamu yang
punya kulit semulus ini” Raka memuji
“ah… Raka mah… “ kata
Rie malu-malu
“hahaha muka kamu merah tuh “
“kenapa kamu stop mainin lagunya? Kamu mainin lagu apa? “
“aku mainin lagu YUI yang judulnya YOU. Bagus banget lagunya, mau dengar?“ tanya Raka
“mau dong “ jawab Rie
Raka kembali memainkan harmonikanya, alunan musik harmonika
yang mengiringi lagu You yang diputar lewat handphonenya menambah keindahan
suasana lingkungan yang dapat menebar benih perasaan. Langit biru yang cerah tak membuat Raka dan Rie menjadi bosan, malah membuat mereka makin betah
berada di sana.
“oh ya Raka, aku tadi lihat di madding, ada pengumuman
tentang perlombaan bermusik. Kenapa kamu tidak ikut? “ tanya Rie
“ lomba music ya? Haha ga mungkinlah aku ikut lomba itu, aku
cuma bisa harmonika, yang ikut lomba itu pasti orang yang hebat-hebat. “ kata
Raka merendah
“ga juga ah, kamu main harmonikanya hebat seperti professional.
Aku sampai kagum “
“ hahaha, ga sehebat itu juga ah. Ayo kita pulang.“
“ayo “ kata Rie sambil berjalan pulang bersama Raka
Langit biru berubah menjadi keemasan, Raka melamun menatap
langit. Ia terpikir dengan apa yang tadi dikatakan Rie tentang lomba bermusik
itu. Dia tertarik dengan lomba itu. Dia pun berpikir apakah dia dapat ikut
lomba itu dengan kemampuannya itu. Matanya melirik ke dalam laci mejanya, dia
teringat akan tabungannya yang telah ia simpan selama ini.
“apakah aku harus mengambil uang tabunganku ini untuk
belajar musik? “ kata Raka
Tekadnya sudah bulat, ia akhirnya mengambil uang tabungannya.
Ia pun pergi ke sebuah tempat yang dikenal sebagai tempat para pemusik
berlatih. Dia pun mendaftarkan dirinya. Setelah itu, dia berpikir untuk membeli
gitar baru dengan sisa uangnya itu. Dipilihnya gitar akustik yang masih mulus
dan masih licin.
“aku harus belajar keras, agar aku bisa memenangkan lomba
ini” kata Raka
keesokan harinya, saat pulang sekolah Riena mencari-cari
Raka. Raka sedang melamun memikirkan tentang latihan musiknya itu.
“Raka, pulang bareng yuk. “ kata Rie mengajak Raka pulang
“maaf ya Rie, aku harus pergi dulu aku ada urusan. “ kata
Raka spontan dan langsung beranjak meninggalkan Riena
“kok Raka aneh banget sih. “ kata Rie heran
Raka memulai latihan bermusiknya sejak hari itu. latihannya cukup berat. Dengan gitar barunya,
ia harus menghafalkan dasar-dasar bermusik. Dan begitulah yang terjadi hingga 1
minggu berlalu. Riena mulai merasakan ada perubahan terhadap Raka. Raka setiap istirahat, selalu melihat ke arah
madding sekolah, tepatnya poster lomba bermusik itu.
“ Raka! Aku mau bicara sama kamu! “ kata Rie
“bicara apa? “
“ aku mau tahu kenapa beberapa hari ini kamu aneh sekali? Saat di kelas,
kamu mengantuk terus. Setiap pulang kamu selalu pulang duluan. Apa aku ada
salah sama kamu? “ kata Rie
“ga ada salah apa-apa kok. Aku sedang melakukan sesuatu hal.
Aku janji deh besok aku akan tunjukin suatu hal sama kamu. “ kata Raka bejanji
Riena yang mendengar hal itu menjadi sangat penasaran. Dia menerka-nerka
apa yang akan ditunjukan oleh Raka padanya. Keesokan paginya, saat Riena datang
ia tak melihat Raka.
“ Raka mana ya? Apa belum datang? “ Riena menaruh tasnya di
kolong meja dan tiba-tiba jatuh sebuah surat. Surat itu ternyata dari Raka.
“dari Raka? Apa isinya ya? ……… Riena, aku mau ketemu sama
kamu di taman sekolah sekarang. “ kata Rie membaca surat dari Raka itu.
Rie langsung pergi menuju taman sekolah, dan dia menemukan
Raka membawa gitar dan dia sedang memainkan sebuah lagu.
“ Raka? “ kata Rie kaget
“ halo Rie, ini kejutan untuk kamu. “ kata Raka
“ Jadi selama ini kamu latihan main gitar Raka? “ tanya Rie
“iya Rie, ini adalah untuk mengikuti lomba music itu. dan
besok lombanya akan dimulai. Aku harap kamu datang ya. “ Raka memohon
“jujur Raka, aku senang melihat kamu bisa main gitar, tapi
apakah hal itu semata-mata untuk memenangkan lomba itu? “
“iya, hanya dengan ini aku punya kesempatan menang. “ kata
Raka
“ aku kecewa sama kamu Raka, Kamu tidak percaya diri dengan
apa yang kamu miliki. Hanya untuk menang kamu rela belajar music dan meninggalkan
semua yang biasa kau lakukan. “ kata Rie langsung pergi meninggalkan Raka
“Rie…. Kok dia jadi marah sih.. “ Raka bingung
Dan tiba-tiba datang sekelompok anak-anak yang terlihat
berandal mendatangi Raka. Ketua mereka Ian, menatap Raka dengan tajam.
“jadi lu ikut lomba ini? jangan harap deh bisa menang. Lihat
anak band gue, Metal-D. gue yakin gue
bisa menang. “ kata Ian
“sebaiknya kita lihat saja besok! “ kata Raka lalu pergi
meninggalkan Ian.
Kelihatan dari wajah Ian, ia tak suka dengan Raka dan berencana
untuk melakukan hal buruk agar Raka kalah.
Hingga keesokan harinya, Raka sudah bersiap untuk ikut lomba itu. Dia menunggu
gilirannya. Dia melihat band Ian yang terlihat cukup percaya diri dalam
mengikuti lomba ini. Raka pun berharap agar Rie datang.
“dimana Rie ya? Apa dia tidak datang ? “ kata Raka kecewa
“kamu cari aku ya? “ suara halus dari balik Raka yang sangat
Raka harapkan.
“Rie, kamu datang? “
“iya, aku minta maaf yang kemarin ya. Seharusnya aku tidak
begitu.”
“tidak apa-apa kok.”
“oh ya kamu harus percaya diri ya!” dukung Rie
Dan tibalah saatnya Raka untuk tampil, tapi betapa kagetnya
ketika ia melihat senar gitarnya putus semua. Raka langsung tersungkur dan
hilang semangatnya sepertinya Raka sudah menyerah.
“ Rie, lihat gitarku, rusak. Aku tidak bisa tampil.“
“ Raka, jangan buat aku kecewa lagi. Kamu pasti bisa! Kamu punya
suatu hal yang hebat yang bisa kamu tunjukan ke semua orang. Ayo Raka kamu
pasti bisa. Pakai ini dan mainkan musikmu. “ kata Rie memberi dukungan dan
memberikan sebuah harmonika yang baru.
Raka merasa kekuatan
baru muncul dari dalam dirinya. Dia naik ke atas panggung dan menarik nafasnya. dan mulai memperkenalkan diri.
“nama saya Raka, saya akan membawakan sebuah lagu dari YUI
berjudul Never Say Die, lagu ini saya pilih karna lagu ini menunjukan bahwa
saya berdiri disini dengan sebuah kekuatan dan semangat yang tak akan pernah
mati. “ Raka mulai terdiam dan mulai
memainkan harmonikanya yang mengiringi lagu Never Say Die.
Alunan melodi yang selaras menyempurnakan lagu ini. para
penonton bertepuk tangan histeris, dab tampak Rie meneteskan air mata.
***
Di sebuah taman rumput, Raka dan Riena berbaring menatap
langit. Kemenangan Raka adalah berkat Rie yang telah membangkitkan semangat
danm menumbuhkan kekuatan baru untuk Raka.
“terima kasih Rie, berkat kamu aku sadar bahwa kita harus
percaya diri. “ kata Raka
“ kamu juga harus bangga karna kamu punya kemampuan yang
hebat dan jika kamu mau kamu pasti bisa menjadi yang kamu mau. “
Akhirnya, Raka dan Riena menikmati kembali keindahan alam
yang menambah akhir bahagia bagi mereka.
“percayalah akan diri kita sendiri, meskipun orang licik
terus menjahati kita, terus percaya maka semangat dan kekuatanmu tak akan
pernah padam melainkan tumbuh menjadi kobaran yang besar yang indah “
THE END
kata kunci : langit biru, bosan, kalah, kekuatan, menyerah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar