Tema : lagu How Crazy dari YUI
Jadilah Dirimu Sendiri
Menjadi seorang remaja pastilah mau dianggap sebagai orang
dewasa. Tapi kita kadang merasa bahwa kita tidak mau juga untuk meninggalkan
masa itu untuk menjadi seorang yang dewasa
sepenuhnya. Pastilah kita ingin hidup menjadi diri kita sendiri.
Itulah yang aku pikirkan selama ini, menjadi diriku sendiri
adalah hal yang terbaik. Tapi kadang aku dipaksa untuk menjadi lebih dewasa,
dan aku tidak suka dengan hal itu. itu benar-benar mengekang hidupku.
“ Mia, kamu itu udah besar sekarang seharusnya kamu harus
bisa berpikiran lebih dewasa, jangan terus jadi anak kecil.” Kata Ibuku
kepadaku
“ suka-suka aku dong bu, aku kan udah besar jadi ibu ga usah
suruh aku buat menjadi dewasa. Aku kan udah dewasa”
“dewasa apanya? Kelakuan kamu itu seperti anak kecil tahu”
kata Ibuku
Aku berusaha tidak peduli akan kata-kata ibuku, meskipun di
dalam hati aku sangat kesal dengan perlakuan yang diberikan padaku hampir
setiap hari. Bukan hanya itu di sekolah aku juga di kenal sebagai anak kecil
dewasa, karna aku sudah menginjak SMA tapi kelakuanku masih seperti anak kecil.
Aku punya 2 orang sahabat yang baik hati, Popi dan Rika.
Mereka selalu menjadi tempat curhatku tentang masalah seperti ini. memang aku
sering menganggap masalah sepele ini sebagai masalah yang besar.
“Popi,Rika, aku kesal tau sama ibu aku sama teman yang lain,
memangnya apa salahnya aku begini? Aku kan belum mau menjadi perempuan dewasa,
apa itu masalah?” curhat aku kepada kedua sahabatku.
“ ga kok, ga ada yang salah Mia, kamu anggap aja ibu kamu
mau yang terbaik buat kamu” kata Popi
“iya Mia, aku setuju, teman-teman yang lain mungkin Cuma
menganggap kamu itu berbeda sedikit dengan mereka” kata Rika
“ iya, tapi aku itu udah ga tahan dengan semua ini” kataku
“coba saja kamu ikutin kemauan mereka untuk menjadi lebih
dewasa.” Kata Popi
“tapi caranya bagaimana?” tanyaku
“coba saja kamu hilangkan sifat kamu yang kekanak-kanakan
seperti cengeng, dan manja itu” kata Rika
“tapi itu susah tahu” kataku
Tiba-tiba seorang pria tampan lewat di depan jalan yang sedang kulalui., namanya Raka. Dia adalah pria yang tampan dan dikenal
pintar bermain alat music. Dia juga pernah memenangkan lomba bermusik di suatu
lomba di Tangerang.
“cieee…. Matanya Mia ngelirik ke Raka tuh..” kata Rika
mengejekku
“ga gitu ah..” kataku mengelak padahal memang dari tadi aku
melihatnya.
Raka berhenti dan melihat sebuah saputangan yang ternyata
adalah milikku. Raka pun melihat ke arahku, kurasa dia membaca nama yang
tertera di saputangan itu.
“ini punya kamu?” tanya Raka kepadaku sambil memberi
saputangan itu
“i..iya, makasih banyak ya..” kataku
“ namaku Raka, kalo ga salah kita itu 1 kelas kan? Nama kamu
Mia kan?” tanya Raka
“ iya, aku 1 kelas sama kamu” kataku gugup
“ya sudah lain kali hati-hati ya..” kata Raka meninggalkan
aku lalu kembali ke kelas
Mataku terpaku melihatnya. Aku memang suka dengannya tapi aku tidak yakin. Aku rasa Raka lebih
suka perempuan yang dewasa ketimbang
aku.
“ Mia, ini adalah motivasi kamu buat menjadi dewasa!” kata
Popi
“ maksud kamu?” tanyaku
“kalau kamu mau mendekati Raka, kamu harus berubah jadi
perempuan yang dewasa dulu!” kata Popi
“apa kamu yakin Popi?”
“iya aku yakin” kata Popi meyakinkanku
Aku pun mulai bertekad untuk menjadi perempuan yang dewasa. Saat
pulang sekolah, aku kembali ke rumah ternyata ibuku sedang pergi ke luar kota
untuk beberapa hari. Ini artinya aku akan tinggal sendiri di rumah. Aku pun
mulai mencari di internet cara mengubah diri menjadi lebih dewasa. Aku berniat
melakukan perubahan besar dalam
diriku.
Beberapa situs kubuka dan kutemukan beberapa cara untuk
membuatku menjadi dewasa. Kupikir karna besok adalah minggu aku bisa berbelanja
keperluan untuk membuat aku menjadi lebih dewasa. Kutelpon Popi dan Rika agar
besok menemaniku pergi berbelanja. Keesokan harinya, aku,Popi,dan Rika pergi ke
sebuah mall.
“Mia, kamu yakin mau beli barang-barang kosmetik? “ tanya
Rika
“ aku yakin ini agar aku menjadi lebih dewasa” kataku
optimis
“Pop, liat nih ini semua gara-gara ide kamu yang aneh-aneh”
Bisik Rika kepada Popi
“maaf, tapi aku kan ga tau semuanya jadi begini” kata Popi
Aku mendengar pembicaraan mereka tapi aku tidak
mempedulikannya. Aku kembali memilih barng kosmetik, kubeli Lipstik merah,
bedak, eyeshadow, dan beberapa alat kosmetik lainnya. Dan saat berjalan aku
melihat Raka sedang berjalan dengan seorang perempuan, Riena. Perempuan
blasteran jepang yang memang sudah lama dekat dengan Raka.
Hatiku menjadi panas seketika. Hingga saat aku pulang ke
rumah, aku langsung menjatuhkan diriku ke kasur kamarku. Aku melihat ke arah cermin
di kamarku dan aku mulai mengambil lipstick dari tasku dan mulai ku olesi
bibirku dengan lipstick itu. kuhabiskan beberapa waktu di kamar untuk berdandan.
Keesokan harinya, aku mencari Raka. Pada hari itu aku
mengenakan gelang yang besar di tanganku, dan sepatu hak tinggi,dan make up
yang menor. Aku pikir dengan semua itu aku sudah menjadi perempuan yang dewasa.
Aku menghampiri Raka yang sedang berbicara dengan Riena di Taman sekolah.
“ halo Raka” sapaku
“umm… kamu Mia ya? Kenapa kamu dandan menor kayak gini?”
Raka terlihat kaget
“ini semua aku lakukan buat kamu” kataku
“hah? Buat aku? Apa maksud
kamu?” tanya Raka bingung
“aku tahu kamu suka wanita yang dewasa jadi aku dandan kayak
begini” jawabku
Raka dan Riena tertawa geli mendengar kata-kataku, aku bingung
sekali. Apakah aku salah bicara atau apa aku pun tidak tahu.
“kenapa kalian tertawa?” tanyaku kesal
“ hmm, maaf bukannya aku mau ikut campur urusan kalian tapi
aku sudah mendengar semuanya tentang kamu dari Raka. Perkenalkan namaku Riena “Riena
memperkenalkan dirinya padaku
“namaku Mia”
“bukannya aku tertawa karna melihatmu tapi aku tertawa karna
melihat usahamu mendekati Raka.”
“memangnya apa yang lucu?” tanyaku bingung
“ dulu Raka pernah seperti kamu, saat dia ikut lomba music itu
dia tidak percaya diri akan kemampuannya sehingga ia ingin memiliki yang lebih.”
Kata Riena
“ hah?” aku kaget
“iya, kamu itu lucu Mia. Aku cukup tertarik padamu, tapi
bukan dengan dirimu yang sekarang melainkan dirimu yang sesungguhnya. “ Kata
Raka
“tapi….”
“ingat Mia, selalu jadi dirimu sendiri, meskipun kamu
dipaksa untuk berubah, berusahalah untuk berubah tanpa menghilangkan sisi
positif dari dirimu” kata Raka
Aku diam saja, aku rasa dunia
bahkan sudah berhenti berputar. Aku baru sadar akan kekeliruanku selama ini.
ternyata Raka benar, dewasa bukan dari fisik melainkan dari pikiran dan
perbuatan. Meskipun aku tidak menginginkannya, aku pasti akan tumbuh menjadi
wanita dewasa suatu saat nanti.
Tapi biarlah aku menjalani hidupku sebagai diriku sendiri. Aku
pun berpikir untuk meminta maaf kepada ibu karna aku salah dan tidak peduli
dengan kata-kata ibu. Saat di rumah, ibu belum pulang. Aku langsung mengangkat
gagang telepon dan menelpon ibu.
“halo” terdengar suara ibuku
“halo bu, ini Mia.”
“oh Mia, ada apa kamu nelpon ibu?”
“aku mau tanya kapan ibu pulang?” tanyaku untuk basa-basi
“ibu pulang 2 hari lagi, tumben kamu tanyain kapan ibu
pulang Mia, memangnya ada apa?”
“tidak bu, aku Cuma mau minta maaf karna selama ini aku udah
salah, ibu udah minta aku buat menjadi dewasa dan aku ga mau dengarin. Aku tahu
aku salah bu. Aku minta maaf.” Kataku minta maaf
“ummm…. Ibu ga tahu kamu ini kenapa hari ini, tapi ibu jadi
bahagia mendengar kata-kata kamu Mia”
“iya bu.. itu aja bu. Aku tahu ibu lagi sibuk. Kita lanjutkan
saat ibu sudah pulang ya…” kataku sambil menutup gagang telepon itu.
Setelah itu, aku pergi ke kamarku dan langsung menjatuhkan
diri ke kasur. Aku mengingat kata-kata Raka. Aku mulai sadar bahwa aku tidak
bisa menahan agar aku menjadi dewasa tapi aku harus menikmati masa-masaku ini
sebagai diriku sendiri.
“Kedewasaan adalah hal
yang tak dapat diungkiri dan tak dapat di hindari, tapi sebelum kita menuju ke
kedewasaan itu untuk meninggalkan masa lalu kita unutk selamanya, sebaiknya
gunakan sisa waktu muda kita untuk hal yang lebih baik”
THE END
Kata kunci : Dewasa, Perubahan,Dunia, Waktu, Jalan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar